Perbedaan Refresh Rate 60Hz, 90Hz dan 120Hz

Nova Octaviani

12.06.2026

Saat melihat spesifikasi HP baru, aku sering menemukan komentar seperti, “Jangan beli kalau layarnya masih 60Hz.” Beberapa tahun lalu, angka itu mungkin tidak terlalu menarik perhatian. Sekarang justru banyak orang menjadikannya salah satu pertimbangan utama sebelum membeli smartphone.

Sebenarnya, apakah selisih antara layar 60Hz, 90Hz, dan 120Hz memang terasa besar?

Jawabannya: ya, tetapi efeknya bergantung pada cara kamu menggunakan HP. Layar 120Hz memang terasa lebih mulus dibanding 90Hz maupun 60Hz. Meski begitu, tidak semua orang akan merasakan peningkatan yang sama. Jika kamu hanya memakai HP untuk chat, media sosial, dan menonton video, selisihnya mungkin tidak terlalu penting. Sebaliknya, kalau kamu sering bermain game atau menghabiskan waktu berjam-jam scrolling, refresh rate tinggi biasanya langsung terasa.

Kalau kamu belum yakin layar HP yang digunakan saat ini berjalan pada 60Hz, 90Hz, atau 120Hz, sebaiknya cek terlebih dahulu sebelum membandingkan performanya. Kamu bisa mengikuti panduan cara mengetahui refresh rate layar smartphone untuk melihat pengaturan tersebut tanpa aplikasi tambahan.

Supaya tidak salah memilih HP, yuk pahami cara kerja refresh rate dan kapan angka yang lebih tinggi benar-benar memberikan manfaat.


Angka kecil yang ternyata membuat layar terasa berbeda

Ilustrasi perbedaan layar 60Hz, 90Hz, dan 120Hz dengan tingkat kelancaran scrolling yang berbeda.

Coba perhatikan dua HP yang diletakkan berdampingan. Salah satunya memakai layar 60Hz, sedangkan yang lain menggunakan panel 120Hz. Saat keduanya membuka aplikasi yang sama, perbedaannya mungkin belum terlihat.

Begitu kamu mulai menggulir halaman, barulah perbedaannya muncul.

Refresh rate merupakan jumlah pembaruan gambar yang dilakukan layar setiap detik. Satuan yang dipakai adalah Hertz (Hz). Jika layar memiliki refresh rate 60Hz, panel akan memperbarui gambar sebanyak 60 kali dalam satu detik. Layar 90Hz memperbarui gambar 90 kali, sedangkan 120Hz mencapai 120 kali setiap detik.

Semakin sering layar memperbarui gambar, semakin halus pula gerakan yang kamu lihat.

Itulah alasan mengapa animasi terasa lebih lembut ketika membuka aplikasi, berpindah menu, atau menggulir media sosial.

Banyak orang mengira refresh rate meningkatkan kualitas gambar. Padahal, teknologi ini lebih berpengaruh pada kelancaran gerakan, bukan ketajaman atau warna layar.


Kenapa produsen terus meningkatkan refresh rate?

Kalau layar 60Hz masih bisa menampilkan gambar dengan baik, kenapa produsen berlomba menghadirkan 90Hz hingga 120Hz?

Jawabannya sederhana.

Pengguna semakin sering berinteraksi langsung dengan layar. Dulu, orang lebih banyak mengetik pesan atau menelepon. Sekarang, aktivitas seperti scrolling TikTok, Instagram, YouTube Shorts, membaca artikel, hingga bermain game berlangsung hampir tanpa henti.

Baca Juga  Cara Membaca Spesifikasi Smartphone Sebelum Membeli HP

Saat jari bergerak cepat, mata ikut mengikuti gerakan tersebut.

Jika layar terlambat memperbarui gambar, gerakan akan terlihat kurang mulus. Produsen akhirnya menaikkan refresh rate agar pengalaman memakai HP terasa lebih responsif.

Menariknya, peningkatan ini juga membuat banyak orang merasa HP baru lebih cepat, padahal prosesornya belum tentu jauh lebih kencang. Efek visual yang lebih halus sering kali memberikan kesan performa yang lebih baik.

Aku pernah berpindah dari HP 60Hz ke 120Hz. Hal pertama yang terasa bukan game atau benchmark, melainkan saat membuka menu dan membaca berita. Scrolling terasa jauh lebih ringan meski sebenarnya kecepatan internet tidak berubah sama sekali.


Membandingkan 60Hz, 90Hz, dan 120Hz dalam penggunaan sehari-hari

Setiap refresh rate memiliki kelebihan masing-masing. Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan, bukan sekadar angka terbesar.

60Hz masih layak untuk penggunaan ringan

Layar 60Hz tetap nyaman untuk:

  • Chat WhatsApp.
  • Menonton YouTube atau Netflix.
  • Membaca artikel.
  • Belajar online.
  • Menggunakan aplikasi perbankan.

Sebagian besar film juga berjalan pada 24 fps atau 30 fps sehingga refresh rate tinggi tidak selalu memberikan perubahan besar saat menonton.

90Hz menjadi titik tengah yang menarik

Banyak HP kelas menengah memilih refresh rate 90Hz karena mampu memberikan peningkatan yang cukup terasa tanpa menguras baterai sebesar 120Hz.

Saat berpindah aplikasi atau scrolling media sosial, animasi terlihat lebih halus dibanding 60Hz.

Kalau kamu baru pertama kali mencoba layar di atas 60Hz, kemungkinan besar kamu langsung merasakan bedanya.

120Hz menawarkan pengalaman paling mulus

Refresh rate 120Hz cocok untuk pengguna yang:

  • sering bermain game kompetitif,
  • aktif memakai media sosial,
  • gemar multitasking,
  • atau menginginkan animasi yang sangat halus.

Meski begitu, tidak semua aplikasi mampu berjalan hingga 120 fps. Jika aplikasi hanya menghasilkan 60 fps, layar 120Hz tetap tidak bisa menampilkan gerakan melebihi kemampuan aplikasi tersebut.

Aktivitas 60Hz 90Hz 120Hz
Chat Sangat nyaman Sangat nyaman Sangat nyaman
Scroll media sosial Cukup Halus Sangat halus
Game FPS Standar Lebih nyaman Paling responsif
Hemat baterai ⭐⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐⭐⭐ ⭐⭐⭐

Refresh rate tinggi juga memiliki konsekuensi

Ilustrasi cara kerja adaptive refresh rate pada smartphone yang menyesuaikan refresh rate sesuai aktivitas pengguna.

Setiap peningkatan teknologi biasanya membawa kompromi.

Refresh rate yang lebih tinggi membuat layar memperbarui gambar lebih sering. Proses itu membutuhkan energi tambahan sehingga konsumsi baterai ikut meningkat.

Karena alasan tersebut, banyak produsen memakai teknologi Adaptive Refresh Rate.

Teknologi ini memungkinkan sistem berpindah otomatis antara 1Hz, 30Hz, 60Hz, 90Hz, hingga 120Hz sesuai aktivitas pengguna.

Misalnya:

  • Saat membaca e-book, sistem dapat menurunkan refresh rate agar baterai lebih awet.
  • Ketika bermain game, sistem langsung menaikkan refresh rate supaya animasi tetap mulus.

Pendekatan ini membuat pengguna memperoleh keseimbangan antara kenyamanan dan efisiensi daya.


Apakah refresh rate tinggi selalu membuat game lebih lancar?

Jawabannya belum tentu.

Game membutuhkan kerja sama antara layar dan GPU.

Kalau game hanya mendukung 60 fps, layar 120Hz tidak bisa menampilkan 120 frame penuh. Kamu tetap memperoleh animasi yang halus saat berpindah menu, tetapi gameplay tidak otomatis meningkat dua kali lipat.

Baca Juga  Perbedaan MIUI dan HyperOS yang Paling Terasa

Sebaliknya, ketika game memang mendukung 90 fps atau 120 fps dan chipset mampu menjalankannya, layar dengan penyegaran tinggi membantu pengalaman bermain yang jauh lebih responsif.

Karena itulah gamer biasanya memperhatikan tiga hal sekaligus:

  • refresh rate,
  • frame rate (FPS),
  • dan kemampuan chipset.

Kalau salah satunya menjadi bottleneck, peningkatan performa tidak akan terasa maksimal.


Jangan sampai tertukar, refresh rate berbeda dengan touch sampling rate

Masih banyak orang yang menganggap refresh rate dan touch sampling rate merupakan teknologi yang sama. Padahal, keduanya memiliki tugas yang berbeda.

Refresh rate mengatur seberapa sering layar memperbarui tampilan gambar.

Sementara itu, touch sampling rate mengatur seberapa sering layar membaca sentuhan jari.

Supaya lebih mudah dipahami, bayangkan kamu sedang berbicara lewat video call.

Refresh rate ibarat layar yang menampilkan gerakan lawan bicara. Semakin tinggi angkanya, gerakan terlihat semakin halus.

Di sisi lain, touch sampling rate berperan seperti mikrofon yang terus mendengarkan suaramu. Semakin tinggi nilainya, semakin cepat HP mengenali setiap sentuhan.

Itulah sebabnya beberapa HP gaming menawarkan layar 120Hz dengan touch sampling rate 240Hz, 360Hz, bahkan lebih tinggi. Produsen sengaja meningkatkan kecepatan pembacaan sentuhan agar karakter dalam game merespons gerakan jari lebih cepat.

Dalam penggunaan sehari-hari, kebanyakan orang lebih mudah merasakan manfaat refresh rate. Sebaliknya, touch sampling rate biasanya baru terasa ketika bermain game yang membutuhkan reaksi cepat.


Kapan selisih ketiga mode layar ini benar-benar terasa?

Tidak semua aktivitas menunjukkan perbedaan yang sama. Ada kondisi tertentu yang langsung memperlihatkan keunggulan refresh rate tinggi.

Saat scrolling media sosial

Instagram, TikTok, Facebook, dan X menampilkan banyak animasi serta konten yang terus bergerak.

Layar 120Hz membuat pergerakan halaman terasa sangat mulus. Mata juga lebih mudah mengikuti isi layar ketika kamu menggulir dengan cepat.

Kalau kembali menggunakan HP 60Hz setelah terbiasa memakai 120Hz, banyak orang merasa animasinya sedikit patah-patah meski sebenarnya perangkat masih bekerja normal.

Ketika bermain game

Game seperti PUBG Mobile, Call of Duty Mobile, Mobile Legends, atau Free Fire bisa memanfaatkan refresh rate tinggi jika pengaturan grafis dan chipset mendukung.

Gerakan kamera terasa lebih halus.

Musuh juga tampak bergerak lebih mulus sehingga beberapa pemain merasa lebih mudah mengikuti pergerakan lawan.

Meski begitu, kemampuan bermain tetap menjadi faktor utama. Refresh rate tinggi membantu pengalaman bermain, tetapi tidak otomatis meningkatkan kemampuan pemain.

Saat membuka dan menutup aplikasi

Animasi sistem operasi juga ikut memanfaatkan refresh rate tinggi.

Mulai dari membuka menu Pengaturan, berpindah aplikasi, hingga menarik panel notifikasi, semuanya terasa lebih halus dibanding layar 60Hz.

Perbedaannya memang kecil jika dilihat sekali. Setelah beberapa hari menggunakan layar 120Hz, barulah banyak orang menyadari betapa mulusnya pengalaman tersebut.


Kenapa video YouTube tetap terlihat normal di layar 120Hz?

Pertanyaan ini cukup sering muncul.

Baca Juga  Fungsi Mode Pesawat yang Harus Kalian Tahu

Kalau layar mampu menampilkan 120 gambar setiap detik, kenapa video YouTube tidak terlihat jauh lebih mulus?

Jawabannya karena refresh rate layar mengikuti sumber gambar.

Sebagian besar video YouTube direkam pada 24 fps, 30 fps, atau 60 fps.

Artinya, video tersebut memang hanya memiliki jumlah frame sebanyak itu. Layar 120Hz tidak bisa menciptakan frame baru yang sebenarnya tidak ada.

Sebagai ilustrasi, bayangkan kamu memiliki album berisi 30 foto. Secepat apa pun kamu membalik halaman album, jumlah fotonya tetap 30.

Hal yang sama berlaku pada video.

Layar hanya menampilkan frame yang memang tersedia.

Beberapa TV modern memang menggunakan teknologi interpolasi untuk menghasilkan frame tambahan. Akan tetapi, sebagian besar smartphone tidak menerapkan teknik tersebut pada semua video karena hasilnya justru bisa terlihat tidak alami.


Apakah refresh rate tinggi membuat baterai lebih boros?

Jawabannya cukup jelas: ya, tetapi besar pengaruhnya bergantung pada cara penggunaan.

Saat layar bekerja pada 120Hz terus-menerus, panel harus memperbarui gambar dua kali lebih banyak dibanding layar 60Hz.

Akibatnya, konsumsi daya ikut meningkat.

Untungnya, banyak smartphone modern menggunakan refresh rate adaptif. Sistem akan menurunkan refresh rate ketika layar menampilkan gambar yang hampir tidak berubah, misalnya saat membaca artikel atau melihat foto.

Begitu kamu mulai bermain game atau menggulir media sosial, sistem kembali menaikkan refresh rate.

Cara ini membuat baterai tetap lebih hemat tanpa mengorbankan kenyamanan.

Kalau kamu lebih mengutamakan daya tahan baterai, menurunkan refresh rate ke 60Hz masih menjadi pilihan yang masuk akal, terutama saat bepergian atau ketika baterai mulai menipis.


Jadi, refresh rate berapa yang paling cocok?

Daripada hanya melihat angka terbesar, coba sesuaikan dengan kebiasaanmu.

  • Pilih 60Hz jika kamu memakai HP untuk komunikasi, belajar, bekerja, membaca artikel, atau menonton video. Pengalaman tetap nyaman dan baterai biasanya lebih awet.
  • Pilih 90Hz jika kamu menginginkan animasi yang lebih halus tanpa mengorbankan daya tahan baterai terlalu banyak. Refresh rate ini menjadi pilihan yang seimbang untuk sebagian besar pengguna.
  • Pilih 120Hz jika kamu sering bermain game, aktif menggunakan media sosial, menyukai pengalaman yang sangat mulus, atau memang ingin memanfaatkan kemampuan layar terbaik dari smartphone.

Kalau aku harus memilih untuk penggunaan harian, 90Hz sering terasa sebagai titik tengah yang pas. Animasinya sudah cukup halus, sementara konsumsi dayanya biasanya masih masuk akal. Meski begitu, kalau selisih harga HP 90Hz dan 120Hz tidak terlalu jauh, memilih 120Hz bisa menjadi investasi yang lebih tahan lama.


Penutup

Fitur ini memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas smartphone. Meski begitu, teknologi ini mampu membuat pengalaman menggunakan HP terasa jauh lebih nyaman, terutama saat scrolling, bermain game, atau berpindah aplikasi.

Kalau penggunaanmu lebih banyak untuk aktivitas ringan, layar 60Hz masih sangat layak. Sementara itu, 90Hz menawarkan keseimbangan yang menarik antara kelancaran dan efisiensi baterai. Jika kamu menginginkan pengalaman terbaik, 120Hz menjadi pilihan yang paling mulus selama perangkat dan aplikasi mampu memanfaatkannya.

Punya pengalaman berpindah dari 60Hz ke 90Hz atau 120Hz? Ceritakan pendapatmu di kolom komentar. Jika artikel ini membantu, jangan lupa bagikan kepada teman yang sedang bingung memilih HP baru.


 

Bagikan :

Tinggalkan komentar